RAHASIA بِكَانَ مَا كَانَ وَبِيَكُونُ مَا يَكُونُ
DAN HURUF ب PADA BASMALAH
(Telaah Ulama Tajwid, Tafsir, dan Ulumul Qur’an)
Editor : Abi Muqoddas Arya Malik
1. Pendahuluan
Dalam tradisi keilmuan pesantren, terdapat dua pembahasan yang sangat sering diulas dalam kajian tafsir, tajwid, dan tasawuf:
- ungkapan hikmah “بِكَانَ مَا كَانَ وَبِيَكُونُ مَا يَكُونُ”, dan
- rahasia huruf ب pada بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ.
Meski bukan ayat atau hadis, kedua topik ini sering digunakan untuk menanamkan pemahaman mendalam tentang tauhid, ketergantungan hamba kepada Allah, dan kesadaran spiritual dalam setiap amal.
Artikel ini menyajikan pembahasan ilmiah namun mudah dipahami, dengan rujukan dari kitab-kitab ulama besar seperti Al-Itqan, Tafsir Qurtubi, Ihya Ulumiddin, dan Mafatih al-Ghaib.
2. Makna Ungkapan “بِكَانَ مَا كَانَ وَبِيَكُونُ مَا يَكُونُ”
Ungkapan ini secara bahasa tersusun dari:
بِ → huruf jar (menunjukkan sebab, bantuan, atau ketergantungan)
كان ما كان → “terjadilah apa yang telah terjadi”
وَ يَكُوْنُ مَا يَكُوْنُ → “dan akan terjadilah apa yang akan terjadi”
Terjemahan:
“Dengan ketentuan-Nya terjadilah apa yang telah terjadi, dan dengan ketentuan-Nya pula akan terjadi apa yang akan terjadi.”
Ungkapan ini menggambarkan konsep qadha dan qadar, selaras dengan firman Allah:
﴿ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا ﴾
(QS. Al-Furqan: 2)
“Dia menciptakan segala sesuatu dan menetapkannya dengan takaran yang tepat.”
Serta sabda Nabi SAW:
« جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ »
(HR. Tirmidzi)
“Pena telah kering (menulis) apa yang akan terjadi.”
Fungsi Ungkapan
Dalam kajian hikmah dan dzikir, kalimat ini digunakan untuk:
- Meneguhkan keyakinan bahwa masa lalu berada dalam takdir Allah.
- Mengingatkan bahwa masa depan juga dalam genggaman Allah.
- Menumbuhkan sikap ikhlas, lapang dada, dan tawakkal.
Ulama seperti Al-Ghazali menjelaskan bahwa memahami takdir adalah bagian dari kesempurnaan iman.
3. Basmalah sebagai Pembuka Segala Kebaikan
Basmalah:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Mendapat perhatian khusus dari ulama Qur’an. Imam As-Suyuthi mencatat dalam Al-Itqan fi Ulumil Qur’an bahwa Basmalah adalah ayat penuh keberkahan dan menjadi pembuka seluruh amal kebaikan seorang Muslim.
Imam Qurtubi menjelaskan:
“Tidak pantas seorang Muslim memulai sesuatu tanpa Basmalah.”
Basmalah adalah pengakuan bahwa:
- amal bukan karena kekuatan diri,
- tetapi karena pertolongan Allah (bi ‘awnillah).
4. Rahasia Huruf ب (Bā’) pada Basmalah
Huruf ب pada بِسْمِ sejak dahulu menjadi objek kajian ulama, baik dalam:
- linguistik,
- tafsir,
- ulumul Qur’an,
- sampai makna isyārī (tasawuf).
4.1. Bā’ sebagai Huruf Sebab (السَّبَبِيَّة)
Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib, huruf ب menunjukkan:
“bi” = dengan sebab, dengan pertolongan, dengan izin
Sehingga kalimat بِسْمِ الله berarti:
“Dengan (sebab) nama Allah aku memulai.”
Makna ini mengajarkan:
- manusia tidak memiliki daya,
- setiap keberhasilan berasal dari Allah.
4.2. Bā’ sebagai Simbol Kerendahan (تَوَاضُع)
Huruf ب diberi harakat kasrah, yaitu tanda berada di bawah.
Menurut Imam Al-Ghazali:
Kasrah menunjukkan kerendahan hamba di hadapan Allah.
Ulama sufi lalu menafsirkan bahwa:
- kasrah = kondisi hamba
- huruf Ba’ = pintu awal amal
- posisi bawah = tawadhu’
Pesan spiritualnya:
“Setiap amal harus dimulai dengan kerendahan hati.”
4.3. Bentuk Huruf Bā’: Garis dan Titik
Huruf ب terdiri dari:
- Garis mendatar → simbol ṣirāṭ mustaqīm
- Titik di bawah → simbol faqru al-‘abd (kepapaan hamba)
Ibn ‘Arabi dalam Futuhat al-Makkiyyah mengatakan:
« سِرُّ الْكِتَابِ فِي الْبَاء، وَسِرُّ الْبَاءِ فِي النُّقْطَةِ »
“Rahasia kitab ada pada huruf Ba’, dan rahasia Ba’ ada pada titiknya.”
Dalam riwayat hikmah sufi, Ali bin Abi Thalib berkata:
« أَنَا نُقْطَةُ تَحْتَ الْبَاء »
“Aku adalah titik di bawah huruf Ba’.”
Maknanya bukan literal, tetapi bahwa:
- titik adalah permulaan segala bentuk,
- Ali adalah sumber ilmu,
- dan semua ilmu bermula dari kerendahan hati.
4.4. Bā’ sebagai Ikatan Hamba dan Allah
Basmala dimulai dengan bi, yang mengandung arti keterikatan.
Imam Baidlawi dalam tafsirnya menjelaskan:
“Bā’ adalah penghubung antara hamba dan Tuhannya.”
Artinya:
- amal hamba tidak berdiri sendiri,
- tetapi terikat kepada Allah.
5. Hubungan antara Bā’ Basmalah dan “بِكَانَ مَا كَانَ”
Kedua konsep ini memiliki dasar yang sama:
1. Sama-sama menunjukkan ketergantungan kepada Allah.
- Basmalah: sebelum amal → butuh Allah
- Bi kāna: setelah amal → tetap dalam ketentuan Allah
- Bi yakūnu: masa depan → milik Allah
2. Sama-sama meneguhkan Tauhid Rububiyah.
Bahwa:
اللّٰهُ الْفَاعِلُ الْحَقِيْقِيُّ
“Allah adalah pelaku sejati segala sesuatu.”
3. Sama-sama hadir dalam lisan para ulama sufi.
Untuk menanamkan:
- pasrah,
- tawakkal,
- yakin kepada takdir.
Dengan demikian, makna Basmalah bukan sekadar kalimat pembuka, tetapi menjadi fondasi spiritual yang menuntun kita menyikapi masa lalu, masa kini, dan masa depan.
6. Kesimpulan
- Ungkapan “بِكَانَ مَا كَانَ وَبِيَكُونُ مَا يَكُونُ” adalah hikmah yang sangat indah untuk memahami takdir.
- Basmalah adalah pembuka segala amal dan wujud ketergantungan hamba kepada Allah.
- Huruf ب pada Basmalah mengandung makna:
- kerendahan,
- sebab,
- permohonan pertolongan,
- dan ikatan hamba kepada Allah.
- Kedua konsep ini sama-sama mengajarkan bahwa seluruh hidup kita berada dalam genggaman Allah.
7. Referensi Ulama
- Jalaluddin As-Suyuthi – Al-Itqan fi Ulumil Qur’an
- Imam Al-Qurtubi – Tafsir Al-Qurtubi
- Fakhruddin Ar-Razi – Mafatih al-Ghaib
- Al-Ghazali – Ihya’ Ulumiddin
- Baidlawi – Tafsir Al-Baidlawi
- Ibn Arabi – Futuhat al-Makkiyyah
- Al-Qusyairi – Risalah Qusyairiyyah
- Ibn Katsir – Tafsir Ibn Katsir
- Imam Nawawi – At-Tibyan