Bismillahirrahmanirrahim.
Kisah para nabi dan orang-orang saleh yang diabadikan dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita, tetapi sarat dengan pelajaran kehidupan. Salah satunya adalah kisah keluarga Imron, yang menjadi keluarga mulia hingga diabadikan dalam Al-Qur’an melalui Surah Ali Imran.
Dalam perjalanan sejarah para nabi, kita mengenal garis keturunan mulia dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Dari beliau lahir generasi para nabi, seperti Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, hingga Nabi Yusuf.
Di antara tokoh yang sering disebut dalam riwayat adalah sosok Rebecca (dalam bahasa Arab dikenal sebagai Rifqah), yang merupakan istri Nabi Ishaq ‘alaihis salam dan ibu dari Nabi Ya’qub.
Rebecca dikenal sebagai wanita yang salehah, penuh kesabaran, dan memiliki peran besar dalam kesinambungan nasab para nabi. Dari rahimnya lahir generasi yang kelak melahirkan banyak nabi dari Bani Israil.
Walaupun nama Rebecca tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an, keberadaannya dikenal dalam riwayat sejarah sebagai bagian penting dari keluarga Nabi Ibrahim.
Berpindah kepada kisah yang secara jelas diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu kisah Imron dan istrinya. Imron bukan nabi, tetapi Allah memuliakan keluarganya karena kesalehan dan ketakwaannya.
Dikisahkan bahwa istri Imron bernazar kepada Allah, apabila diberikan keturunan, maka anak tersebut akan dipersembahkan untuk berkhidmat di jalan Allah. Ini adalah bentuk keikhlasan luar biasa dari seorang hamba.
Allah pun mengabulkan doa tersebut. Lahir seorang anak perempuan yang diberi nama Maryam. Meskipun yang diharapkan adalah anak laki-laki, Allah justru memilih Maryam menjadi wanita mulia yang kelak melahirkan Nabi Isa ‘alaihis salam.
Maryam tumbuh dalam kesucian dan ketaatan. Ia menghabiskan waktunya di mihrab untuk beribadah kepada Allah. Bahkan, ia mendapatkan rezeki dari Allah tanpa diduga, yang membuat Nabi Zakaria takjub.
Ketika dewasa, Maryam mendapatkan ujian besar. Ia diberi kabar bahwa akan mengandung seorang anak tanpa disentuh laki-laki. Ini adalah bukti kekuasaan Allah yang tidak terbatas.
Saat menghadapi fitnah dan tuduhan, Maryam tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih diam dan berserah diri kepada Allah. Hingga akhirnya, bayinya—Nabi Isa—berbicara saat masih dalam buaian, membela ibunya dan menyatakan dirinya sebagai hamba Allah.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa tidak semua kebenaran harus dijawab dengan ucapan. Kadang, diam dan tawakal adalah jawaban terbaik.
Selain itu, kisah keluarga Imron mengajarkan bahwa pendidikan anak dimulai dari niat orang tua. Nazar yang tulus akan melahirkan generasi yang luar biasa.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering ditekankan bahwa ibadah tidak akan sempurna tanpa berbakti kepada orang tua. Hal ini juga ditegaskan dalam kisah Nabi Isa, yang menekankan pentingnya berbuat baik kepada ibu.
Begitu pula dalam rumah tangga, suami dan istri memiliki peran masing-masing. Keluarga yang harmonis akan melahirkan generasi yang saleh, sebagaimana keluarga Imron yang melahirkan Maryam, dan Maryam melahirkan Nabi Isa.
Kisah Rebecca dan Imron menunjukkan bahwa keluarga adalah fondasi utama dalam membentuk sejarah besar umat manusia. Dari keluarga yang baik, lahir generasi pembawa cahaya.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang diridhai Allah, penuh keberkahan, serta melahirkan generasi yang saleh dan salehah.
Wallahu a’lam bish-shawab.