Sekilas Perjalanan Sunan Gunung Jati: Dari Pajajaran ke Cirebon, Jejak Dakwah dan Nasab Ulama Nusantara

Oleh: KH. Abdul Wahab Dasuki Adnan, SE
(Pengasuh Pondok Pesantren Al Washilah Jakarta Barat)

Sejarah penyebaran Islam di Nusantara menyimpan kisah panjang yang tidak hanya berbicara tentang dakwah, tetapi juga perjalanan nasab, perjuangan keluarga, serta transformasi peradaban. Salah satu tokoh sentral dalam sejarah tersebut adalah Syarif Hidayatullah, ulama besar yang menjadi bagian dari Wali Songo dan berperan penting dalam Islamisasi wilayah Jawa Barat, khususnya Cirebon.

Dalam tradisi lisan pesantren, perjalanan ini kerap diawali dari kisah Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, yang bertemu dengan seorang perempuan shalihah, Nyimas Subang Larang. Ia dikenal sebagai sosok hafizhah Al-Qur’an, ahli ilmu agama, dan memiliki akhlak yang luhur.

Diceritakan, melalui proses panjang, Prabu Siliwangi akhirnya memeluk Islam. Pernikahan keduanya melahirkan tiga anak, yakni Raden Walangsungsang, Nyimas Rara Santang, dan Pangeran Sengara.

Raden Walangsungsang, yang juga dikenal dengan berbagai nama seperti Syekh Abdullah Iman, Pangeran Cakra Buana, hingga Ki Kuwu Cirebon, memilih meninggalkan kehidupan istana. Ia tidak cocok dengan kondisi ayahnya yang kembali pada kebiasaan lama. Bersama Rara Santang, ia menempuh jalan hijrah.

“Walang sungsang lari keluar dari kerajaan… mencari makrifatullah,” demikian narasi yang berkembang dalam pengajian-pengajian tradisional.

Perjalanan spiritual tersebut membawanya berguru kepada para ulama, termasuk Syekh Danu Warsi. Ia kemudian menunaikan ibadah haji ke Baitullah dan dikenal sebagai Haji Abdullah Iman.

Sementara itu, Rara Santang juga menempuh perjalanan ke luar negeri hingga ke Mesir. Dalam kisah yang berkembang, ia sempat berada di bawah kekuasaan seorang penguasa bernama Sultan Abdullah bin Sultan Hud. Dari perjalanan hidupnya, lahirlah seorang anak yang kelak menjadi tokoh besar dalam sejarah Islam Nusantara, yakni Syarif Hidayatullah.

Tokoh ini kemudian mengembara hingga tiba di Cirebon. Dalam perjalanannya, ia menikah dengan berbagai latar belakang keluarga, termasuk putri Pakungwati, putri Tiongkok (Ong Tien), serta memiliki hubungan dengan Banten.

Dari garis keturunannya lahir tokoh penting lain seperti Maulana Hasanuddin, yang dikenal sebagai pendiri Kesultanan Banten.

Dalam tradisi pesantren, perjalanan ini tidak hanya dimaknai sebagai sejarah politik atau genealogis, tetapi juga sebagai pelajaran spiritual tentang pentingnya nasab, doa orang tua, serta peran pendidikan dalam membentuk generasi.

“Nasab itu bukan hanya dari atas, tapi bagaimana kita menjaga dan membuatnya menjadi baik,” demikian pesan yang kerap disampaikan dalam pengajian.

Diceritakan pula bahwa dua anak Prabu Siliwangi, yakni Walangsungsang dan Rara Santang, dididik oleh ibunya sebagai penghafal Al-Qur’an. Namun karena perbedaan jalan hidup dengan ayahnya, keduanya memilih keluar dari lingkungan kerajaan.

Walangsungsang kemudian melanjutkan perjalanan dakwah, menikah, dan memiliki keturunan yang turut membangun peradaban Islam di Cirebon. Nama Pakungwati bahkan diabadikan menjadi nama keraton di Cirebon.

Sementara itu, Syarif Hidayatullah melanjutkan dakwah dengan pendekatan yang luas, mencakup budaya, politik, dan pendidikan. Ia menjadi figur sentral dalam pembentukan masyarakat Islam di Jawa Barat.

Jejak dakwah ini kemudian melahirkan generasi ulama yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara, dari Cirebon, Banten, hingga daerah-daerah lain di Jawa.

Dalam konteks kekinian, kisah ini menjadi pengingat bahwa penyebaran Islam di Indonesia berlangsung melalui pendekatan damai, keluarga, dan pendidikan. Peran perempuan seperti Nyimas Subang Larang dan Rara Santang juga menunjukkan kontribusi besar dalam membentuk generasi ulama.

Di kalangan pesantren, sejarah ini terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas keilmuan dan spiritual. Ia tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga inspirasi bagi generasi sekarang untuk menjaga nilai-nilai keislaman, akhlak, dan perjuangan.

Dengan demikian, perjalanan Syarif Hidayatullah bukan sekadar kisah individu, melainkan representasi dari mata rantai panjang dakwah Islam yang terus hidup hingga hari ini.