Renungan Kehidupan: Hakikat Kebahagiaan dalam Pandangan Iman

Oleh: KH. Muhammad Sahidi Rahman, MA
(Pengasuh Pondok Pesantren Al Washilah Jakarta Barat)

Saya ingin mengajak kita semua untuk merenung, Bapak Ibu, hadirin yang kami muliakan.

Hari ini, jutaan manusia di luar sana sudah tidak lagi dapat merasakan manisnya gula. Mereka tidak lagi bisa menikmati lezatnya makanan yang tersedia di dunia ini. Bahkan, sebagian dari mereka tidak lagi dapat merasakan keindahan apa pun yang terlihat oleh mata, karena asupan makanan ke dalam tubuhnya tidak lagi melalui mulut, melainkan melalui selang kehidupan medis.

Hari ini pula, jutaan manusia harus menghabiskan biaya hingga miliaran rupiah demi mempertahankan kesehatan mereka. Mereka yang dahulu dapat memandang indahnya keluarga, menikmati keindahan dunia di sekelilingnya, kini harus kehilangan nikmat penglihatan itu. Ada yang tidak lagi bisa melihat wajah suami, istri, maupun anak-anaknya.

Di sisi lain, ada pula jutaan manusia yang bahkan untuk berdiri saja tidak mampu, apalagi berjalan untuk hadir di majelis yang mulia ini. Mereka kehilangan nikmat pada kakinya, karena telah dicabut oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka berkeliling dunia untuk berobat dengan biaya besar, namun pada akhirnya ajal tetap datang, dan kesembuhan pun belum tentu mereka dapatkan.

Sementara kita yang hadir di tempat ini, sering kali tidak pernah secara khusus meminta kesehatan. Kita tidak setiap malam berdoa agar mata kita tetap dapat melihat, atau agar kaki kita tetap kuat melangkah. Namun tanpa kita minta secara detail, Alhamdulillah Allah masih memberikan kita nikmat kesehatan.

Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Hakikat Kebahagiaan

Hadirin yang kami muliakan, saya melihat di hadapan saya ini wajah-wajah yang tampak bahagia. Namun izinkan saya bertanya dengan sederhana: hari ini, apakah kita benar-benar bahagia?

Ada seseorang yang setiap hari mencari arti kebahagiaan. Ia sendiri hidup dalam kesedihan. Suatu hari, ia mendapati sekelompok orang di sebuah kampung yang sedang berkumpul, makan, bercanda, dan tertawa lepas.

Ia pun berkata dalam hati, “Ya Allah, inilah orang-orang yang bahagia.”

Ia mendekat dan mengucapkan salam,
“Assalamu’alaikum, wahai orang-orang yang bahagia.”

Namun mereka menjawab,
“Engkau salah. Kami bukan orang bahagia, kami adalah orang sengsara.”

Ia pun terkejut,
“Bagaimana mungkin kalian disebut sengsara, padahal kalian tertawa, makan, dan bercanda?”

Mereka menjawab,
“Kami sudah satu minggu tidak punya beras, tidak punya uang, dan tidak makan.”

Dari situ ia belajar bahwa tawa tidak selalu berarti bahagia.

Ia pun melanjutkan pencariannya dan bertemu orang-orang kaya yang hidup dalam kemewahan. Ia kembali berkata,
“Inilah orang-orang bahagia.”

Namun jawaban mereka sama,
“Kami bukan orang bahagia, kami orang sengsara.”

Ia bertanya,
“Bukankah kalian kaya, punya rumah, kendaraan, dan keluarga?”

Mereka menjawab,
“Benar, tetapi kami tidak bebas menikmati hidup. Banyak larangan kesehatan: tidak boleh makan ini karena kolesterol, tidak boleh itu karena asam urat, dan seterusnya.”

Ia kembali menyadari bahwa harta pun tidak menjamin kebahagiaan.

Lalu ia berpikir bahwa mungkin kebahagiaan ada pada kesehatan. Ia mendatangi orang-orang yang tampak sehat dan hidup mapan.

Namun ketika ditanya, mereka juga menjawab,
“Kami bukan orang bahagia.”

“Apa yang kurang?” tanyanya.

Mereka menjawab,
“Kami sudah menikah lama, memiliki harta dan kesehatan, tetapi belum dikaruniai anak.”

Ia pun menyimpulkan bahwa kesehatan pun belum tentu membawa kebahagiaan.

Kebahagiaan yang Sebenarnya

Hingga akhirnya ia bertemu seseorang dan berkata,
“Assalamualaikum, Anda pasti orang yang bahagia karena semuanya ada pada diri Anda.”

Namun orang itu menjawab,
“Salah. Saya bukan orang bahagia, saya adalah orang sengsara.”

“Bagaimana saya bisa bahagia? Harta ada, jabatan ada, kontrakan di mana-mana, mobil mewah, anak banyak. Tetapi anak-anak saya ada yang terjerat narkoba, ada yang tertipu orang, ada yang menjadi perampok, dan ada yang bermasalah dengan hukum. Maka saya tidak bahagia.”

Dari sini kita belajar, bahwa tidak semua orang kaya itu bahagia. Tidak semua orang berharta banyak itu bahagia. Tidak semua orang memiliki banyak anak itu bahagia.

Lalu siapa sebenarnya orang yang bahagia?

Makna Kebahagiaan dalam Islam

Kebahagiaan sejati bukan terletak pada harta, jabatan, kesehatan, ataupun keturunan. Tetapi pada hati yang ridha menerima setiap ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kebahagiaan sejati adalah ketika seseorang menerima setiap pemberian Allah dengan hati yang ridha dan lapang.

Apapun yang Allah berikan, ia syukuri dengan penuh keikhlasan.

Jika Allah memberikan anak, ia bersyukur. Jika anaknya tidak seperti yang diharapkan, ia tidak merendahkan, karena semuanya adalah ciptaan Allah.

Jangan pernah meremehkan pemberian Allah. Karena sering kali, dari hal yang kita anggap kekurangan, justru Allah hadirkan keberkahan, doa, dan kedekatan kepada-Nya.

NOTE :

TAUSIYAH AGAMA BERSAMA KH. MUHAMMAD SAHIDI RAHMAN DALAM RANGKA MENYAMBUT TAHUN BARU ISLAM 1445H
Diselenggarakan oleh:
Majlis Ta’lim Yasin Fadillah
Jl. Kali Apuran RT.016/010, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat