Jakarta – Menjelang masa liburan santri, Pondok Pesantren Al-Washilah menggelar Pembacaan Tahlil yang diikuti oleh seluruh santri putra pada Jum’at, 26 Juni 2026. Kegiatan ini dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan sebagai bentuk penghormatan dan doa kepada para pendiri Pondok Pesantren Al-Washilah, serta menjadi tradisi yang senantiasa dijaga dalam kehidupan pesantren.

Kegiatan dipandu oleh seluruh asatidz dan diikuti oleh seluruh santri putra. Sebelum memasuki masa liburan yang dimulai pada Sabtu, 27 Juni 2026, para santri berkumpul untuk bersama-sama membaca tahlil dan memanjatkan doa kepada Allah SWT agar para pendiri pondok senantiasa mendapatkan rahmat, ampunan, dan tempat terbaik di sisi-Nya.
Pembacaan tahlil menjadi salah satu bentuk pendidikan karakter di lingkungan pesantren yang mengajarkan pentingnya berbakti kepada para guru, ulama, dan pendahulu yang telah berjasa dalam membangun serta mengembangkan lembaga pendidikan Islam. Melalui doa bersama ini, para santri diingatkan untuk selalu menghargai perjuangan para pendiri pondok yang telah mewakafkan tenaga, waktu, ilmu, dan kehidupannya demi kemajuan dakwah dan pendidikan umat.

Selain mendoakan para pendiri pondok, kegiatan ini juga menjadi momentum bagi para santri untuk memohon kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan selama perjalanan pulang ke kampung halaman, kesehatan selama menjalani masa liburan, serta kemudahan untuk kembali menuntut ilmu di pesantren dengan semangat yang lebih baik.
Para asatidz berpesan agar selama berada di rumah, para santri tetap menjaga adab, melaksanakan shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, menghormati kedua orang tua, serta tetap mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama belajar di Pondok Pesantren Al-Washilah. Masa liburan hendaknya dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi dengan keluarga tanpa meninggalkan kebiasaan ibadah yang telah dibangun selama berada di pesantren.
Suasana haru dan khidmat terasa sepanjang kegiatan berlangsung. Lantunan kalimat tahlil, tasbih, tahmid, serta doa-doa yang dipanjatkan menjadi pengingat bahwa hubungan antara santri, guru, dan para pendiri pesantren tidak terputus oleh waktu, melainkan terus terjalin melalui doa dan penghormatan yang tulus.
Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Al-Washilah berharap nilai-nilai tawadhu’, ukhuwah Islamiyah, serta kecintaan kepada ulama dan para pendahulu terus tumbuh dalam diri setiap santri. Tradisi mendoakan para pendiri pondok diharapkan menjadi bagian dari pembentukan akhlakul karimah yang akan terus melekat dalam kehidupan para santri, baik selama berada di pesantren maupun ketika kembali ke tengah masyarakat.