Ujian Lisan Yasin dan Al-Waqiah di Al Washilah Jakarta, Menguji Hafalan Sekaligus Ketepatan Bacaan

Ujian Lisan Yasin dan Al-Waqiah di Al Washilah Jakarta, Menguji Hafalan Sekaligus Ketepatan Bacaan

ujian lisan santri Al Washilah Jakarta

JAKARTA — Seusai salat Isya, Aula Utama Pondok Pesantren Al Washilah Jakarta menjadi tempat para santri Madrasah Diniyah menunjukkan hasil belajar mereka. Pada Senin (28/9/2026) malam, para santri mengikuti ujian lisan hafalan Surah Yasin dan Surah Al-Waqiah sebagai bagian dari Ujian Tengah Semester (UTS) ganjil tahun ajaran 2026/2027.

Ujian berlangsung secara bergiliran. Setiap santri maju satu per satu untuk membacakan hafalan di hadapan penguji dari dewan asatidz dan asatidzah. Cara ini memberi kesempatan kepada penguji untuk menyimak bacaan setiap santri secara langsung, sekaligus melihat bagian yang sudah dikuasai dan bagian yang masih perlu diperbaiki.

ujian lisan santri Al Washilah Jakarta

Sebelum ujian dimulai, pengasuh pesantren memimpin tawasul dan doa bersama. Rangkaian pembuka tersebut mengantarkan para santri memasuki kegiatan evaluasi yang berlangsung tertib dan khidmat.

Lebih dari Sekadar Lancar Menghafal

Materi yang diujikan meliputi Surah Yasin ayat 1–83 dan Surah Al-Waqiah ayat 1–96. Kedua surah itu harus dibacakan dengan memperhatikan aturan tajwid, makharijul huruf atau tempat keluarnya huruf, serta fashahah, yakni kefasihan dalam melafalkan bacaan.

Karena itu, ujian lisan tidak hanya melihat apakah santri mampu melanjutkan ayat demi ayat. Ketepatan pengucapan dan kualitas bacaan juga menjadi perhatian. Seorang santri dapat mengetahui secara langsung bagian bacaan yang perlu dilatih kembali, sementara penguji memperoleh gambaran perkembangan belajar masing-masing santri.

Di lingkungan madrasah diniyah, proses seperti ini menjadi bagian penting dari pembelajaran Al-Qur’an. Hafalan yang terus diulang membantu santri menjaga ingatan, sedangkan pemeriksaan bacaan secara langsung membantu mereka memperbaiki pelafalan. Keduanya berjalan bersama dalam pembinaan yang dilakukan para asatidz dan asatidzah.

Memahami Nilai dari Surah yang Dihafal

Selain hafalan dan kaidah bacaan, materi ujian juga mencakup pembahasan mengenai fadhilah Surah Yasin dan Surah Al-Waqiah sebagai bekal akhirat. Dengan materi tersebut, santri diajak memahami bahwa ayat-ayat yang mereka pelajari memiliki makna dan nilai untuk direnungkan serta diamalkan.

Pembelajaran ini memberi ruang bagi santri untuk melihat hafalan Al-Qur’an sebagai proses yang berkelanjutan. Setelah mampu mengingat ayat, mereka tetap perlu merawat ketepatan bacaan dan memperdalam pemahaman terhadap pesan yang terkandung di dalamnya.

Kepala Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Al Washilah Jakarta, KH. Muhammad Sahidi Rahman, M.A., bersama seluruh dewan asatidz dan asatidzah mengawal pelaksanaan ujian tersebut. Hingga kegiatan selesai, ujian berlangsung lancar. Para santri mengikuti setiap tahapan dengan antusias dan menunjukkan kesiapan saat tiba giliran mereka.

Bagi Madrasah Diniyah Al Washilah Jakarta, UTS lisan ini menjadi sarana untuk menilai hasil pembelajaran sekaligus menentukan arah pembinaan berikutnya. Catatan dari bacaan setiap santri dapat digunakan untuk memperkuat hafalan, membenahi tajwid dan makharijul huruf, serta melatih kefasihan mereka dalam membaca Al-Qur’an.