Syekh Junaid al-Batawi

SYEKH JUNAID AL BATAWI: ULAMA BETAWI YANG MENDUNIA

SYEKH JUNAID AL BATAWI

ULAMA BETAWI YANG MENDUNIA

Prof. KH. Ahmad Sanusi

Oleh: Prof Dr. H. Ahmad Sanusi, M.A.

Syekh Junaid lahir di Pekojan (sekarang Tambora Jakarta Barat DKI Jakarta) dengan demikian bisa dikatakan bahwa beliau adalah seorang ulama Betawi atau Batavia ketika itu. Tentang tahun lahirnya tidak diketahui tepatnya namun menurut Zulfa Mustofa dalam bukunya yang berjudul Tuhfatul Qoshi Wad Dani bahwa Syekh Junaed al Batawi lahir sekitar tahun 1795 M. hal itu berdasarkan keterangan Snock Horgonje dalam catatanya bahwa ia bertemu Syekh Junaid al Batawi pada tahun 1884 M dan ketika itu beliau adalah seorang yang sudah berusia lanjut yang berumur sekitar 90 Tahun[1]

Mengenai guru-gurunya di Betawi tidak ada riwayat yang menjelaskan, namun diceritakan ketika sudah menginjak dewasa beliau pergi ke Mekkah untuk belajar dengan para ulama dan para msyayikh di tanah suci dan di antara guru beliau di Mekkah adalah: al mufti Jamaludin bin Umar bin Abdullah bin Syaikh Umar al Hafni seorang mufti Mekkah pada saat itu.

Beliau pergi ke Mekkah pada tahun 1834 H dan ketika itu Syaikh Junaid al Batawi sekitar umur 35-40 tahun demikian menurut catatan Snouck Horgonje, Syaikh Juned al Batawi bermukim di Mekkah selama 60 tahun, ia membawa anak dan isterinya untuk belajar dan akhirnya menetap di Mekkah sampai wafat.

Menurut riwayat lain Syekh Juned al Batawi pergi ke Mekkah dua kali, pertama: beliau pergi ke Mekkah ketika berumur 20 tahunan dan menetap di Mekkah selama 6 tahun untuk pergi haji dan belajar kemudian beliau pulang ke tanah Betawi, kedua: beliau pergi ke Mekkah ketika berumur 40 dan tinggal menetap di Mekkah bersama keluarga sampai beliau wafat sekitar 100 tahun lebih.

Beliau memiliki empat orang anak, yakni dua putra dan dua putri, anak putranya bernama As,ad dan Sa’id, adapun anak putrinya menikah dengan Syekh Mujtaba bin Ahmad al batawi dari kampung Mester yang merupakan murid Syekh Juned al Batawi ketika beliau berada di Mekkah. Adapun putrinya yang satu lagi menikah dengan seorang ulama asal Mesir yang bernama Syekh Abdurrahman al Mashri.[2]

Syekh Junaid al-Batawi

Syekh Juned al Batawi merupakan salah seorang ulama Nusantara yang diangkat menjadi imam di Masjidil Haram Mekkah pada saat itu selain Syekh Nawawi al Bantani dan Syekh Ahmad Khatib al Minangkabau dan tidak sembarang orang yang bisa menjadi imam masjidil haram selain itu beliau juga mendapat gelar saikhul masyayikh yang terkenal seantero dunia Islam dengan bermadzhab Syafei.[3]

Syekh Junaid al Batawi adalah satu-satunya ulama Betawi yang memiliki pengaruh di dunia Islam pada awal abad ke-19 serta menjadi pongkol, poros atau ujung puncak utama ulama Betawi masa kini, demikian dikatakan Rakhmad Zailani Kiki dalam bukunya Geneologi Intelektual Ulama Betawi [4]

Syekh Juned al Batawi selama di Mekkah mengabdikan dirinya untuk mengajar ilmu-ilmu Keislaman, diceritkan bahwa beliau mengajar al Qowaid al Aarabiyah di rumahnya untuk para pelajar yang datang dari tanah Jawa dan terkadang beliau menggunakan bahasa daerah dalam mengajar. Dan diantara murid Syekh Juned al Batawi adalah Syekh Nawawi al Bantani, Syekh Mujtaba’ al Bantani yang kemudian menjadi menantunya.[5]dan Syekh Khatib al Minagkabau.

Syaikh Nawawi al Bantani konon katanya murid Syekh Juned al Batawi yang paling dekat, saking dekatnya, sampai sekarangpun ketika diperingati haul Syekh Nawawi al Bantani di Tanara Serang Banten, selalu dibacakan al fatihah untuk Sang guru Syekh Juned al Batawi.[6]

Menurut Alwi Syahab nama besar Syaikh Juned al batawi tidak dimungkiri telah turut  memasyhurkan waraga Betawi di Tanah suci Mekkah. Bukan hanya itu masih menurut Alwi Syahab bahwa  pada tahun 1925 ketika Syarif Ali  (putra Syarif Husein) ditaklukan oleh Ibnu Saud di antara syarat penyerahannya adalah agar keluarga syekh Juned al Batawi tetap dihormati setingkat dengan keluarga kerajaan, dan supaya orang-orang ternama yang bersuku al Batawi seperti Syekh Ahmad al Batawi, Syekh Abdullah al Batawi dan Syekh Said al Batawi (putra dan Syekh Juned al Batawi) harus dibebaskan dan dilindungi. Maka persyaratan yang diajukan Syarif Ali tersebut diterima oleh Raja Abdul Aziz Ibnu Saud.[7]

Menurut Snouck Horgonje dalam bukunya Sofhaat min tarikh Makkah ia menyebutkan bahwa ketika ia berada di Mekkah Syekh Juned al Batawi masih hidup dan ia selalu menghadiri acara-acara kekeluargaan dan membaca doa pada acara tersebut karena Syekh Juned adalah ulama yang disegani dikalangan para kaum Jawa di Mekkah, namun saja karena beliau sudah sepuh suaranya lirih dan tidak jelas dan giginya juga sudah tidak ada tatkala beliau memimpin doa atau memimpin dzikir.[8]

Snouck Horgonje ingin menemui Syekh Juned al Batawi ketika berada di Mekkah namun beliau menolaknya, tidak ada keterangan kenapa beliau menolak bertemu dengan Snouck Horgonje bisa jadi Syekh Juned mendengar tentang penjajahan kolonial Belanda di Batavia  atau bisa jadi karena Syekh Juned tidak suka dengan penjajahan kolonial Belanda.

Syekh Juned al Batawi wafat di Mekkah sekitar tahun 1890an M (berdasarkan analisis dari catatan Snock Horgonje) namun kepastian tahun wafatnya tidak diketahui, beliau dimakamkan di pemakaman Ma’la kota Mekkah.[9]

Dalam rangka mengenang jasa beliau dalam penyebaran ilmu-ilmu keislaman dan pengaruhnya terhadap masyarakat Betawi maka pada bulan Juni tahun 2022  gubernur Jakarta saat itu yakni Anis Baswedan telah resmi mengganti nama-nama jalan di Jakarta menjadi nama-nama tokoh Betawi di antaranya nama Jalan Syekh Juned al Batawi yang sebelumnya bernama jalan lingkar luar barat (sekarang berada di Rawa Buaya dan Duri Kosambi Jakarta Barat)

[1] Zulfa Mustofa Op. Cit hlm. 86

[2] Thoriq Aziz Jayana, Ulama-ulama Nusantara yang Mempengaruhi Dunia, (Yogyakarta: Noktah, 2023) hlm. 41

[3] Ibid

[4] Rakhmad Zailani Kiki, Genealogi Intelektual Ulama Betawi: Melacak Jaringan Ulama Betawi dari awal Abad ke 19 sampai Abad 21, (Jakarta: Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta, 2011) cet. Ke 1   Hlm. 60

[5] Zulfa Mustofa Op. Cit. Hlm. 87

[6] Thoriq Aziz Op. Cit. Hlm. 43

[7] Alwi Syahab, Robinhood dari Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (Jakarta: Republika, 2022) hlm. 115

[8]  Snouck Horgonje, Sofhaat min tarikh Makkah al Mukarromah  (Saudi Arabia: Ali Tasis, 1999) juz 2 Hlm. 597

[9] Zulfa Mustofa Op. Cit hlm. 87