Haul Sebagai Wujud Bakti Anak kepada Orang Tua

Oleh: KH. Abdul Wahab Dasuki Adnan

Haul bukan sekadar tradisi tahunan atau acara seremonial semata. Di dalamnya terkandung nilai penghormatan, doa, serta pengingat bagi generasi penerus agar tidak melupakan jasa dan perjuangan para pendahulu. Dalam acara Haul ke-16 almarhum K.H. Ahmad Dasuki bin K.I. Adnan bin Kiai Tanawi, tersimpan pesan mendalam tentang arti bakti kepada orang tua yang tidak pernah terputus oleh kematian.

Banyak santri baru yang hari ini mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan beliau karena almarhum wafat pada tahun 2010. Namun, sosok seorang alim tidak akan benar-benar hilang. Ilmu yang diwariskan akan terus hidup, diteruskan oleh anak, cucu, santri, dan generasi setelahnya. Itulah keberkahan ilmu. Orang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya akan tetap dikenang meski jasadnya telah tiada.

Melalui haul ini pula, kita berharap agar Pesantren Alwasilah senantiasa menjadi pesantren yang dipenuhi keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan menjaga perjuangan para ulama terdahulu.

Makna haul sendiri adalah “mengulang” atau mengenang kembali. Mengulang ingatan terhadap jasa, perjuangan, nasihat, dan keteladanan orang tua serta guru-guru kita. Islam mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan setelah kewajiban menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun, masih banyak yang memahami bahwa bakti kepada orang tua hanya dilakukan ketika mereka masih hidup. Padahal hakikatnya, kewajiban itu tidak berhenti meski orang tua telah wafat dan dikuburkan. Selama hayat masih dikandung badan, seorang anak tetap memiliki tanggung jawab untuk berbakti kepada ayah dan ibunya.

Ketika orang tua masih hidup, bentuk bakti diwujudkan dengan berbuat baik, berkata lemah lembut, menaati nasihat yang baik, dan tidak membangkang kepada mereka. Bakti bukan hanya kepada ibu, tetapi juga kepada ayah. Dalam ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, kedudukan ayah sangat mulia dan wajib dihormati serta ditaati.

Adapun ketika orang tua telah meninggal dunia, maka bakti itu dilanjutkan dengan doa-doa yang tidak pernah putus, menjaga nama baik mereka, meneruskan perjuangan dan amal kebaikannya, serta selalu mengingat jasa-jasa mereka dalam kehidupan kita.

Karena itu, haul sejatinya bukan hanya mengenang orang yang telah wafat, melainkan juga menjadi momentum pendidikan ruhani bagi anak-anak dan generasi muda agar memahami pentingnya menghormati orang tua, mencintai ulama, serta menjaga warisan ilmu dan akhlak yang telah ditanamkan para pendahulu.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal ibadah para orang tua dan guru-guru kita, melapangkan kuburnya, serta menjadikan kita termasuk anak-anak yang senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah wafat. Aamiin.

Editor : Abi Muqoddas Arya Malik Khoirurruman Wasoleh