Oleh: KH. Abdul Wahab Dasuki Adnan, SE
Keluarga seringkali dipahami sebagai tempat paling nyaman dalam kehidupan. Tempat pulang, tempat berbagi, dan tempat mendapatkan cinta. Namun dalam perspektif Islam, keluarga tidak hanya menjadi sumber kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi ujian terbesar bagi manusia.
Banyak orang tidak menyadari bahwa justru dari keluargalah seseorang bisa dekat kepada Allah, atau sebaliknya, semakin jauh dari-Nya.
Islam telah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang tujuan dibangunnya sebuah keluarga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat lahirnya ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (warahmah). Namun realitas hari ini seringkali berbeda. Banyak keluarga yang secara lahir tampak bahagia, tetapi kosong dari nilai-nilai keimanan.
Salah satu kesalahan terbesar dalam membangun keluarga adalah menempatkan cinta secara berlebihan tanpa arah. Orang tua mencintai anak, itu fitrah. Namun ketika cinta itu tidak dibimbing dengan nilai agama, justru menjadi pintu kelalaian.
Allah telah mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.”
(QS. Al-Munafiqun: 9)
Ayat ini seharusnya menjadi alarm bagi setiap orang tua. Betapa banyak yang bekerja keras demi anak, tetapi melupakan kewajiban kepada Allah. Betapa banyak anak yang diberi fasilitas terbaik, tetapi tidak diajarkan shalat, tidak dikenalkan Al-Qur’an, dan tidak dibentuk akhlaknya.
Padahal, dalam Islam, keluarga adalah amanah. Tanggung jawab yang kelak akan dipertanyakan di hadapan Allah. Bukan hanya soal nafkah, tetapi juga soal iman.
Allah kembali mengingatkan dengan sangat tegas:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini bukan sekadar nasihat, melainkan perintah. Artinya, menjaga keluarga dari neraka adalah kewajiban. Dan itu tidak bisa dilakukan tanpa pendidikan agama yang serius.
Kita perlu jujur mengakui, banyak keluarga hari ini lebih fokus pada pendidikan dunia daripada akhirat. Anak didorong untuk sukses secara materi, tetapi minim pembinaan spiritual. Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara iman.
Di sinilah pentingnya menata kembali orientasi keluarga. Bahwa tujuan utama bukan hanya hidup nyaman di dunia, tetapi selamat di akhirat.
Keluarga yang baik bukanlah keluarga yang tanpa masalah. Justru setiap keluarga pasti diuji. Namun yang membedakan adalah bagaimana mereka menghadapi ujian tersebut. Apakah dengan emosi dan ego, atau dengan iman dan kesabaran.
Sejarah dalam Al-Qur’an telah memberikan banyak pelajaran. Ada keluarga nabi yang tidak selamat karena tidak dibangun dengan ketaatan. Namun ada pula keluarga yang diangkat derajatnya karena iman dan kesabaran.
Artinya, status, jabatan, bahkan kedudukan tidak menjamin keselamatan keluarga. Yang menentukan adalah iman.
Maka, sudah saatnya setiap orang tua kembali bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah keluarga yang dibangun hari ini sudah mengarah ke surga, atau justru menjauh darinya?
Cinta kepada keluarga adalah hal yang mulia. Namun cinta itu harus mengantarkan kepada Allah, bukan menjauhkan. Mendidik anak bukan hanya soal masa depan dunia, tetapi juga masa depan akhirat.
Karena pada akhirnya, keluarga bukan hanya tentang siapa yang bersama kita hari ini, tetapi siapa yang akan bersama kita nanti di surga.
Editor : Abi Muqoddas Arya Malik