Jakarta – Dalam upaya memperkuat pemahaman akidah Islam yang lurus berdasarkan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pondok Pesantren Al-Washilah kembali melaksanakan Pengajian Kitab Tijan Ad-Darari yang menjadi salah satu program unggulan pembelajaran kitab kuning bagi para santri. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jum’at, 26 Juni 2026, bertempat di Masjid Jami’ Al-Washilah, menjelang pelaksanaan shalat Maghrib.

Pengajian dipimpin langsung oleh Prof. Dr. KH. Ahmad Sanusi, Lc., M.A., yang memberikan penjelasan mendalam mengenai isi Kitab Tijan Ad-Darari, sebuah kitab yang membahas pokok-pokok akidah Islam secara sistematis dan mudah dipahami. Dengan metode penyampaian yang ilmiah namun tetap komunikatif, para santri diajak memahami dasar-dasar keimanan yang benar serta pentingnya menjaga akidah dari berbagai penyimpangan.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri putra dan putri Pondok Pesantren Al-Washilah. Pengajian dilaksanakan secara rutin setiap hari Jum’at menjelang shalat Maghrib sebagai bagian dari kurikulum kepesantrenan yang mengintegrasikan pembelajaran ilmu syariat, akidah, akhlak, dan pembinaan karakter Islami.
Dalam pengajiannya, Prof. Dr. KH. Ahmad Sanusi, Lc., M.A. menekankan bahwa akidah merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Keimanan yang benar akan melahirkan ibadah yang benar, akhlak yang mulia, serta keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Oleh karena itu, mempelajari kitab-kitab ulama salaf menjadi salah satu sarana penting untuk menjaga kemurnian pemahaman agama.
Selain memperdalam wawasan keislaman, kegiatan ini juga melatih para santri untuk terbiasa mengikuti tradisi keilmuan pesantren, yaitu mengkaji kitab kuning secara langsung bersama guru yang memiliki kompetensi keilmuan. Tradisi ini telah menjadi ciri khas pendidikan pesantren dalam mencetak generasi ulama, dai, dan pemimpin umat yang memiliki kedalaman ilmu serta akhlakul karimah.
Melalui pengajian rutin Kitab Tijan Ad-Darari, Pondok Pesantren Al-Washilah berharap para santri tidak hanya memahami teori akidah, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi pribadi yang kokoh dalam keimanan, istiqamah dalam ibadah, serta siap menjadi penerus dakwah Islam di tengah masyarakat.