KH Amrin Hanan: Ulama Alim Faqih dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon

KH Amrin Hanan: Ulama Alim Faqih, Kharismatik, Sederhana, dan Ikhlas dalam Mengajar

Oleh: Ahmad Sanusi

KH Amrin Hanan, Ulama Besar dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon

KH Amrin Hanan merupakan salah seorang ulama besar yang berasal dari Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat. Pesantren ini dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Indonesia yang diperkirakan berdiri sekitar tahun 1705 Masehi, serta telah melahirkan banyak ulama dan tokoh agama yang berkiprah di berbagai daerah.

Saya mulai menimba ilmu di Pesantren Babakan Ciwaringin pada tahun 1987. Saat itu saya diantar oleh ayah saya dan dititipkan di Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin.

Pada masa itu, pesantren diasuh oleh tiga ulama besar yang sangat dihormati, yaitu:

  • KH Fuad Amin
  • KH Abdullah Amin
  • KH Amrin Hanan

Ketiga kiai tersebut dikenal sebagai sosok yang sangat menyayangi para santri dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan balasan apa pun. Selain alim, mereka juga hidup dalam kesederhanaan dan jauh dari kemewahan.

Keteladanan KH Amrin Hanan dalam Menjadi Imam Salat

KH Amrin Hanan memiliki istiqamah yang luar biasa dalam mengimami salat berjamaah di Masjid Pesantren Tholibin. Beliau hampir setiap hari menjadi imam salat Zuhur dan Asar.

Sementara itu, salat Magrib, Isya, dan Subuh biasanya diimami oleh KH Abdullah Amin.

Selama menjadi santri, saya hampir tidak pernah melihat keduanya meninggalkan tugas sebagai imam, kecuali karena sakit atau keperluan yang sangat mendesak. Sikap istiqamah tersebut memberikan kesan yang sangat mendalam bagi kami para santri.

Mengajar Kitab Fikih Tingkat Tinggi

Setiap selesai salat Asar, KH Amrin Hanan mengajar kitab Syarah Al-Mahalli ‘ala Minhaj, salah satu kitab fikih Mazhab Syafi’i yang tergolong tingkat tinggi.

Pengajian tersebut dilaksanakan di teras Masjid Tholibin dan umumnya hanya diikuti oleh para ustaz atau santri senior yang telah memiliki kemampuan membaca kitab kuning secara mendalam.

Saat itu saya masih duduk di kelas lima sekolah dasar dan baru memasuki kelas empat Madrasah Hidayatus Syubban (MHS), sebuah madrasah yang fokus mempelajari kitab-kitab kuning.

Materi yang saya pelajari ketika itu masih sebatas cara membaca tulisan Arab, memberi makna, menulis Arab Pegon, serta kitab Mabadi Fiqhiyyah sebagai dasar ilmu fikih.

Karena itulah saya belum diperkenankan mengikuti pengajian tersebut. Namun dalam hati saya tersimpan keinginan yang sangat besar agar suatu saat dapat belajar langsung kepada beliau.

Kesempatan Mengaji Langsung kepada KH Amrin Hanan

Beberapa tahun kemudian, Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar langsung kepada KH Amrin Hanan.

Beliau membuka program Takhasus, yaitu kelas khusus bagi santri yang telah dinilai mampu membaca kitab kuning.

Saya bersama beberapa teman mendapat kesempatan mengikuti pengajian tersebut yang dilaksanakan setiap malam setelah salat Isya hingga terkadang pukul 00.00 bahkan lebih.

Kitab yang dikaji saat itu adalah Fathul Qarib.

Yang menarik, metode pembelajaran beliau bukanlah ceramah satu arah, melainkan menggunakan metode sorogan bersama.

Santri terlebih dahulu membaca teks kitab, kemudian setiap bacaan dianalisis secara rinci.

Apabila terdapat kesalahan, beliau langsung meluruskannya sambil menjelaskan aspek:

  • Nahwu
  • Sharaf
  • Makna kalimat
  • Kandungan fikih
  • Ushul fikih
  • Hikmah hukum

Penjelasan beliau sangat rinci sehingga setiap kalimat benar-benar “dipreteli” dari berbagai sisi keilmuan.

Melalui cara mengajar tersebut tampak jelas kedalaman ilmu beliau dalam berbagai disiplin ilmu Islam.

Kedalaman Ilmu yang Sangat Mengagumkan

Saya masih mengingat sebuah pengalaman ketika mengkaji Bab al-Bai’ (Jual Beli).

Seorang santri baru membaca satu baris kitab, namun terdapat beberapa kesalahan.

KH Amrin Hanan kemudian menjelaskan satu baris tersebut secara sangat mendalam.

Beliau menguraikan:

  • ilmu nahwu,
  • ilmu sharaf,
  • fikih,
  • ushul fikih,
  • hingga berbagai penjelasan lainnya.

Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, padahal kami baru membahas satu baris kitab.

Kami semua mendengarkan dengan penuh kekaguman.

Peristiwa tersebut menjadi bukti betapa luas dan dalamnya ilmu yang beliau miliki.

Yang lebih mengagumkan lagi, selama mengikuti pengajian kami tidak pernah diminta membayar sedikit pun.

Keikhlasan beliau dalam mengajarkan ilmu menjadi teladan yang sangat berharga, khususnya bagi para pendidik Islam.

Sanad Keilmuan KH Amrin Hanan

KH Amrin Hanan merupakan kakak dari KH Machdum Hanan, salah seorang anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar Nahdlatul Ulama di Jombang.

Beliau adalah putra dari ulama besar KH Abdul Hannan Cirebon, sekaligus menantu KH Amin Sepuh Babakan Ciwaringin.

Dalam setiap pengajian, KH Amrin Hanan sering menyebut nama guru beliau, yaitu KH Masduki Lasem, Jawa Tengah.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sanad keilmuan beliau tersambung kepada para ulama besar Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama.

Sosok Ulama yang Kharismatik

Kharisma KH Amrin Hanan tidak diragukan lagi.

Banyak santri yang menaruh rasa hormat, cinta, dan kekaguman kepada beliau.

Saya termasuk salah seorang santri yang merasakan langsung keteladanan, keluasan ilmu, kesederhanaan, serta keikhlasan beliau selama menuntut ilmu di pesantren.

Penutup

Semoga seluruh amal ibadah KH Amrin Hanan, khususnya dalam menyebarkan ilmu-ilmu Islam, diterima oleh Allah SWT dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Semoga kita semua mampu meneladani sifat beliau yang ikhlas, sederhana, tawadhu, serta istiqamah dalam mengajarkan ilmu agama kepada generasi berikutnya.

Semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan manfaat sekaligus menjadi bentuk tabarruk kepada beliau.

بارك الله لنا ولكم ولجميع المسلمين

Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin.

Baca Juga Artikel Lainnya